Author Archive

Matur Sembah Nuwun

Sudah lama, saya ingin posting ini. Saya baru ingat sekarang. Mungkin karena euforia yang tak seberapa itu. Kenapa? Akhirnya saya lulus! Yeah! Waktu dosen pembimbing saya bilang, “selamat, Nia, kamu lulus.” Saya langsung joget shuffle di ruang sidang, walaupun sebenarnya saya udah tau kalo saya pasti lulus (sombong dikit hahaha).

Tidak mau jadi orang sombong dan lupa akan kerendahan hati yang biasa diajarkan di PMP waktu eSDe, saya ingin mengucapkan ‘Matur Sembah Nuwun’ untuk semua pihak yang terkait secara langsung maupun tidak dalam kuliah dan penyelesaian TA saya selama 5,5 tahun di IT Telkom Bandung jurusan Teknik Informatika. Sekarang, saya menyandang gelar S.T di belakang nama saya. Puas? Sedikit. Kalau manusia cepat puasnya, kapan majunya??

Lembar Persembahan
Banyak pihak yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung dalam pengerjaan tugas akhir ini. Penulis mempersembahkan setiap lembar tugas akhir ini kepada semua yang tertulis di lembar ini.

  1. Terimakasih kepada Sang Bijaksana pencipta semesta. Ketika aku membuka mata dan sadar bahwa aku masih bisa bernafas, aku merasa Kau ada, mendampingiku dalam setiap kata yang kutulis pada buku harian waktu. Terimakasih karena kuboleh memanggilMu Bapa. Terimakasih kepada hati Yesus tak bernoda, dan kepada Bunda Maria yang selalu berdoa bagi anak- anaknya.
  2. Terimakasih kepada Bapak dan Ibu. Atas semangat yang selalu dilimpahkan seperti hujan di bulan Desember. Untuk doa yang terus menerus terucap dari hati orangtua kepada anaknya. Sampai ketika aku menutup mata nanti, aku tak akan bisa membayar kasih yang tak pernah terucapkan oleh kata.Terimakasih untuk adik- adik tercinta, Leo dan Tika. Semoga aku sebagai kakak, memberi pesan yang baik bagi kalian berdua.
  3. Terimakasih untuk Kristian Mahendra Keize. Seorang yang sangat luar biasa dalam menghadapi hidup, yang selalu memberikan semangat dan menjalani apapun dengan berpikir secara sederhana dalam tawa dan bijaksana dalam kecerdasan.
  4. Terimakasih untuk Ibu Vera Suryani dan Ibu Setyorini, yang selalu membimbing, memberikan saran dan semangat untuk menyelesaikan segala sesuatu yang tertinggal di kampus tercinta, agar segala kewajiban terpenuhi dan segala cita- cita terengkuh.
  5. Terimakasih untuk Keluarga Mahasiswa Katholik IT Telkom. Di sinilah tempat untuk belajar, tertawa, dan beriman. Kebahagiaan selalu berada di dalamnya saat aku merasakan duka. Semoga kalian terus selalu membentuk keluarga baru.
  6. Terimakasih untuk keluarga besar Sukapura Indah, Reni, Siska, Agnes, Nawang, Pandu, Birawa, Hendro, Christian, Ari, Gatot, Dhea, Corry, Grace, Lucia, Patricia, Arman, Desi, Ferico, Ipam, Dito, Amos, dan Mas Sukar. Kalian telah memberikan suara di tempat yang sunyi. Menyanyikan lagu yang tak pernah terdengar.
  7. Terimakasih kepada keluarga KSR IT Telkom, khususnya Toni, Fitri, Desta, Andry, Setyo, Deri, Latif, Vita, Medya, pelajaran yang berharga telah diberikan. Bahwa kemanusiaan dan kesukarelaan adalah sesuatu berharga yang harus tetap dijaga.
  8. Terimakasih untuk Common lab, yang telah mengijinkan aku untuk bergabung ke dunia yang lain dari sebelumnya aku pernah bayangkan. Membagikan ilmu bagi orang lain itu menyenangkan.
  9. Terimakasih untuk teman teman IF, terutama IF-30-01 termasuk ibu- ibu PKK. Kalian luar biasa! We win! Kepada Anggi Sophian Sipahutar, sahabat pena digital, teman bercerita dan teman menderita, aku yakin kamu juga bisa.
  10. Terimakasih kepada alam, yang mengajarkan bahwa tujuan hidup adalah keselamatan setelah mencapai puncak tertinggi. Walaupun untuk menempuhnya, banyak tanjakan curam dan lubang yang dalam, semakin sering aku kelelahan dan terjatuh, aku teringat untuk beristirahat dan bangkit lagi.

“ Mimpi membuat aku menjalani hidup. Aku bermimpi dalam kehidupan. Ketika aku berhenti bermimpi, aku berhenti hidup.”

 

Category: Uncategorized  Tags:  7 Comments

Dear Estrogen

Saat- saat wanita menyalahkan estrogen: ketika setiap malam diam- diam menyalakan microwave sambil memasak mi instan

Saat- saat pria menyalahkan estrogen: setiap saat

 

That’s why… We call it estrogen syndrome

-?-

Tidak bolehkah aku sedikit terpesona,
pada hitam keriting rambutmu yang selalu kau cukur dua senti di atas kulit kepala
atau pada legam tubuhmu yang menjelaga karena pigmen yang tak merata

Kamu harusnya memang selalu ada,
meskipun hanya untuk memujaku semata.
Setiap aku mengucapkan selamat di pagi hari karena masih bisa bernapas lega,
walaupun dunia sudah mulai berduka

Sumbang nyanyianmu meretas sukma,
kapankah kita akan mulai mencinta?
Ternyata kamu hidup di dunia maya…

Category: Art  Tags: , ,  Leave a Comment

23

Hari ini aku bertanya- tanya, ketika Bapak sedang panik karena istrinya akan melahirkan anak pertama. Seperti apakah dia? Ketika ibu merasakan kesakitan bukaan di rahimnya, seperti apa wajahnya? Ketika seorang anak manusia akan memulai mencari dosa, apa yang dipikirkannya?

Sejak pertama aku memandang cermin, aku langsung jatuh cinta. Terpesona akan keindahan diri sendiri. Lalu memuji Sang Pencipta, mengapa Dia bisa membuat makhluk seperti ini. Hormatku ya Tuhan, atas segala sentuhan Mu pada diriku.

Aku kini 23.

Sebenernya Sih….

Sebenernya sih… Pengen banget nulis dengan kata- kata sophisticated, biar keliatan ciamik dan dahsyat. Cuman kenapa ya, vocab bahasa Indonesia saya tidak begitu banyak… Kalau dibandingkan dengan penulis lainnya, saya jadi merasa rendah diri.

Yah, mungkin untuk sementara, ini udah keren, biar begini adanya. Saya berbicara dengan otak saya yang sederhana, tidak ingin membuat orang berkerut jidat dan lapar mata mencari bahan bacaan lain. Minimal, tujuan saya menulis harus terwujud ketika orang membaca tulisan saya: terhibur. Mungkin sedikit mengerutkan jidat, tapi tidak sampai malas membaca.

Mungkin sekali- kali saya harus mencoba membawakan tulisan yang banyak artinya dan vocabnya harus nyari dua hari sebelumnya…

Ciao!

Category: Et Cetera  Tags:  2 Comments

Puisi Hujan

Perhatikan saja, setiap orang yang memandang hujan
Lalu merindukan panas mentari dan mengumpat kenapa hujan lagi
Namun ketika mentari itu datang, mereka beranjak pergi
Bukan berterimakasih atas sang hari

Perhatikan saja, setiap orang yang memandang hujan
Mengambil gitar untuk memainkan lagu
Sambil mengingat kekasih yang telah berlalu
Mereka menciptakan lagu hujannya

Perhatikan saja, setiap orang yang memandang hujan
Lalu menangis, menemani hujan membasahi bumi
Lalu menjadi sendu, tiba- tiba kelabu
Menantikan seseorang yang dulu ada, dan sekarang tak akan kembali

Perhatikan saja, setiap orang yang memandang hujan
Kembali tak acuh dengan rintiknya
Lalu menulis puisi tentang orang lain yang memandang hujan
Tidak pernah peduli hujan dan terang, kemudian tertidur

Siapakah yang mengharapkan hujan?

Category: Art  Tags: , , , ,  One Comment

Pandangan Mata Ilham

Sudah limabelas ribu kali aku memejamkan mata, mencoba untuk tertidur. Domba yang aku coba hitung juga sudah habis. Mereka terlalu kelelahan melompat- lompat di pikiranku. Kuistirahatkan saja mereka. Biar kenangan kemarin, kemarin lusa, dan kemarinnya lagi berputar- putar di kepalaku. Aku sendiri tidak tahu kenapa kamu terus bermain di sini, pertama di depan kelasku. Lalu di lapangan basket, lapangan futsal, lama kelamaan kamu bermain di kepalaku. Kamu serakah. Hatikupun kau jadikan tempat bermain.

Pertamakali aku jatuh cinta, ya dengan kamu.  Kamu yang mengantarkan getaran itu setiap kali melewati kelasku. Kamu satu- satunya lelaki yang berani menatap mataku secara langsung, walaupun tanpa tersenyum. Menghantarkan sesuatu yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya dengan orang lain.

Aku selalu menantikan jam istirahat selama limabelas menit itu, karena kamu akan berbetah- betahan di kelasku sambil memainkan lagu Kasih Tak Sampai dengan gitar dan suara serakmu. Lalu aku akan memilih untuk mencuri pandang denganmu dan tidak menuju kantin untuk makan siang. Menahan lapar buat kamu. Terdengar romantis. Padahal sebelumnya aku tidak tahu siapa namamu.

Aku tak sabar untuk menunggu esok hari tiba. Menunggu kamu mendatangi kelasku untuk meminjam buku pelajaran yang ketinggalan kepada Billy. Kemudian mata kita akan bertemu, menghasilkan ikatan kimia dan memunculkan hormon endorphin di kepalaku.

Sekolah tak pernah seindah ini sebelum kamu memandangku. Hari ini aku akan memberanikan diri untuk berkenalan denganmu. Aku akan main ke kelasmu dan berpura- pura menanyakan namamu. Sudah belasan kali kulatih ini di cermin. Walaupun begitu, aku masih gemetar dan sakit perut begitu wajahmu terbayang di mataku.

“Hei”, kataku memberanikan diri

“Hei!”

“Mmm… boleh pinjem buku sejarah? Punyaku ketinggalan di rumah.”, trik nomor satu, kataku dalam hati.

“Oh, boleh. Kebetulan aku bawa. Sebentar ya… Hmmm… ini dia bukunya.”, katanya sambil tersenyum manis.

“Thanks! By the way, aku Sheila.”, kataku sambil mengulurkan tangan.

“Oh, aku Ilham.”, jawabnya.  “Aku sudah tahu kok nama kamu.”

Wow… kurasakan detak jantung yang semakin kencang. Sepertinya ini pertanda yang baik.

“Oh ya? Tau dari mana?”, semoga aku bisa menyembunyikan kebahagiaanku yang berlebih.

“Haha… pasti tahu lah. Kamu kan yang duduk di depan Ninda?”, jawabnya

“Iya…”

Wow, ternyata dia sampai hapal siapa teman di belakangku! Aku ingin melompat- lompat bahagia.

“Eh, nanti kalau udah masuk kelas, tolong sampaikan salam aku ya buat dia. Ehm… sori nih, kita baru kenalan tapi aku udah begini. Kamu tahu gak, dia lagi naksir siapa?”, tanyanya sambil malu- malu.

“Oh…”, aku mencoba menyusun kata.

Jadi selama ini Ninda? Astaga… Aku terlalu bodoh untuk mengira bahwa dia memandangku. Selalu berjaga di kelasku setiap jam istirahat demi melihatku. Ternyata bukan. Arrgh… ingin kumaki diriku.

“Oh…ehm… Ninda ya? Sayangnya dia udah punya pacar.”, jawabku kaku.

“Masa? Aku gak pernah liat dia jalan sama seseorang…”

“iya, pacarnya itu guru lesnya.”, kataku serius.

“I see.”

Ilham, cahayamu lalu redup seketika. Jika kamu lilin, harusnya aku yang menyalakan kamu.

Tinggalkan Ninda, Ilham… Malam ini aku tidak bisa terpejam lagi.

#FFDadakan @nulisbuku

Basa Basi Hadiah Ulang Tahun

Dear Monyetku,

Betul, ini adalah surat untuk kamu. Kamu pasti tahu kalau aku sayang kamu. Tidak pernah seharipun aku melewatkan kamu dalam mimpi- mimpiku. Kamu juga pasti menanti mimpi- mimpi kita yang belum terwujud. Tenang saja, waktu tidak akan lari kemana ketika aku menggenggam tanganmu. Kita akan meninggalkan waktu jauh di belakang saat kita melangkah. Dimana ada kamu, waktu duniaku menjadi terhenti walaupun waktumu terus berlari. Waktu itu juga yang sudah menjadikan kamu seperti sekarang, yang lebih kuat dan bahagia. Lebih gembira, walaupun tak ada yang menjaga.

Eh, sadarkah kamu, kita selalu membagi mimpi bersama. Itu yang membuat kita bahagia. Aku bahagia. Apalagi ketika aku melihatmu memandang tembok dengan tatapan kosong, memikirkan sesuatu yang masiv bagimu. Kamu begitu mempesona, ya… setidaknya di mataku. Apalagi ketika melihat kerutan di ujung matamu ketika kau tertawa.

Sudah cukup basa basinya. Aku hanya ingin mengucapkan selamat sayang, sudah menempuh 9125 hari di dunia. Kamu berhasil melaluinya bahkan dengan cara yang luar biasa, dengan cara istimewa. Sampai detik ini pun aku masih bertanya- tanya, bagaimana bisa kamu bertahan hidup dengan keadaan seperti dulu. Selamat telah mencapai apa yang sudah kamu inginkan dan belum kamu dapatkan. Sesekalinya kamu harus bersyukur, walaupun dalam hati.

Berarti, aku tinggal menanti harapan- harapan yang tidak disertai dengan tiupan lilin di hari ulangtahunmu ini. Aku percaya, bahwa setiap harapan akan terwujud, diiringi dengan doa, dan kerja keras yang selama ini kau lakukan.

Monyetku, ini bukan pisang, tapi surat untukmu. Semoga kau bahagia, tidak hanya di hari ulangtahunmu. Tapi juga di hari lain, apalagi ketika bersamaku.

 

Love,

Marmut yang baru tercipta tadi malam

 

Teruntuk: Kristian Mahendra Keize
Selamat ulang tahun yang ke 25

Category: Art  Tags: , , ,  One Comment

Jalan Menuju Mimpi

Kebiasaan saya akhir- akhir ini adalah menulis tanpa tau apa yang saya tulis. Berdasarkan peristiwa setiap harinya yang saya lewati, saya coba untuk menulis. Namun terantuk di suatu bagian. Sama seperti ketika saya melangkah, lalu menemukan jalan buntu, saya bukannya berbalik untuk mencari arah yang benar, tapi saya hanya terdiam. Merenungi diri, kenapa saya bisa sampai disini, siapa yang salah, saya yang salah atau ada orang lain yang berperan sehingga saya bisa sampai di tempat ini.

Sekarang adalah fase dimana saya sadar, bahwa merenungi jalan buntu di hadapan saya kurang begitu berarti. Namun, saya menemukan suatu hal baru, daripada saya beputar untuk mencari arah yang benar atau menanyakan arah kepada seseorang, lebih baik saya membongkar jalan buntu. Mendobrak kesadaran yang ada. Saya akan membiarkan kaki terus berjalan dan insting yang menuntun. Ketika ada matahari, biarlah saya berjalan menuju matahari sampai pukul duabelas siang. Lalu beristirahat untuk sekedar mengambil nafas atau minum untuk mengusir haus.

Kaki saya mulai beranjak, untuk membuat kerangka baru dari setiap cuilan kilasan hidup saya bersama orang- orang terdekat dan orang- orang terjauh. Hanya untuk harapan sederhana, yaitu mewujudkan mimpi kecil. Karena hidup adalah perjalanan menuju mimpi…

Gracias

Jakarta-Bandung-Jakarta

Pernahkan kamu merasakan ingin sekali mempunyai sesuatu?

Aku sedang ingin. Ingin sekali. Tapi rasa rasanya tidak bisa tercapai. Ingin apa? Ingin ada embel- embel S.T di belakang namaku…

Ya… Emang klise sih, tapi bukannya setiap orang yang kuliah pengen lulus? Sama aja kayak setiap orang yang lapar pengen kenyang. Ya… Aku kelaparan. Alhasil, hidupku akhir- akhir ini berakhir melodramatis. Nonton Oprah nangis, nonton the Ghost Wisperer nya Jennifer Love Hewwit nangis, nonton National Geographic nangis, bahkan nonton animax juga nangis. Lebih nangis lagi kalo nonton putri yang ditukar. Sedih… Kenapa masih ada yang mau nonton anak 16 tahun dibedakin kayak ibu- ibu dan diculik ke Hongkong.

Okey, back to basic. Kesalahan sebenarnya terletak di aku. Yang udah ngelamar kerja sebelum lulus. Ga kepikiran aja kalau kerja menguras tenaga dan otak. Capek. Pulang- pulang cuman pengennya nonton Glee sambil merem melek karena ngantuk. Udah gak cukup otaknya buat kerja lagi. Dan ternyata bolak balik Jakarta- Bandung- Jakarta dalam sehari seminggu sekali itu sangat melelahkan. Apalagi kalau cuman buat ketemu dosen setengah jam.

Yeah, I don’t want to get tortured. I think my BF already enough to  hear from me about this matter…

Dear, blog sayang… Maapin mamah ya :*

Category: Et Cetera  Tags: ,  One Comment