Archive for the Category » Art «

Terimakasih Untuk Nada dan Penciptanya

Terimakasih kepada pencipta nada, karena dimana kamu ada, disitu ada cinta. Nada tak pernah lepas dari energi, dunia Sang Bijaksana, dan ketika aku merasa ada nada, pandanganku jadi berwarna. Pencipta nada seharusnya memiliki semesta, bukan mereka yang biasa bicara tentang senjata, atau perampas hak orang jelata. Aku memuja dirimu wahai pencipta nada. Kutemukan imortalitas sejati penikmat alam semesta ketika kugabungkan nada dengan mimpi yang belum menemui realita. Ketika pertama aku mengucap nada, kurasakan getar kimia yang belum pernah kualami sebelumnya. Semua mengandung misteri dan menyangkut hati.

Karena tak pandai aku merangkai kata, kugabung nada menjadi cerita.

Category: Art  Tags: , ,  Leave a Comment

Mimpi

Tadi malam aku memintamu menginap di apartemenku, hanya sekedar untuk melepas rindu. Kau memang tak tersentuh, bahkan oleh tanganmu sendiri. Aku cukup bahagia melihat kau tertidur pulas di karpet bulu sambil berselimutkan sleeping bag yang biasa kubawa ke gunung. Di udara Jakarta yang sepanas ini, masih saja kau tidak bisa tidur tanpa selimut, walaupun nantinya saat bangun kau akan menemukan dirimu dalam keadaan basah seperti keluar dari kolam renang.

Pukul 3 pagi, waktu yang katanya begitu sakral, aku terbangun oleh mimpi yang menyebalkan. Di mimpiku, tidurku ditemani oleh seseorang laki- laki tak kukenal. Ketika bangun, dia mencium bibirku, lalu kucium bibirnya. Lalu dia tertawa, dia merasa aku miliknya. Harga diriku mati terbawa angin. Cih. Lalu aku berlari mencari kamu, namun kamu tak ada. Kamu hilang. Tawanya terus menggema di telingaku. Aku terbangun.

Saat mataku terbuka, kumelihat langit- langit kamar, lalu samar- samar kurasakan tanganmu memelukku dari belakang. Ternyata kau tak lagi berselimutkan karpet bulu, kau rebut selimutku.

Senyumku mengembang seperti anak kecil yang baru saja dibelikan balon. Ah, semoga tadi tak hanya mimpi. :)

Sajak yang Kutinggalkan di Lereng Merapi

Ketika merapi itu mulai bergemuruh, dan memuntahkan laharnya,

aku dan keluargaku terpaksa meninggalkan rumah dan ternakku.
Berharap kami dapat menyambung hidup dan masih tetap utuh bersama.
Kulihat istriku menggendong bayi kami yang masih menyusu ibunya, dia lahir 3 bulan yang lalu.
Tak terbayangkan meninggalkan desa kami, dimana aku mencari rumput untuk sapi dan kambingku,
dimana aku mendengarkan lantunan gending dari radio tua setiap sore dengan ditemani teh manis buatan istriku yang diseduhnya di dalam gelas kaleng hijau putih.
Ya, aku akan bertahan hidup, demi mereka yang kucintai. Itu tekadku.
Beberapa hari setelah merapi mereda, aku berjanji pada diri sendiri untuk kembali sejenak ke rumah kami, untuk sekedar mengambil baju si bayi, atau hanya melepas rindu pada radio tua kami.
Ketika hari itu datang, ingin jatuh airmataku, lemas kakiku, dingin tubuhku. Tak kulihat rumah kami yang dulu.
Raib, hilang dimakan muntahan merapi yang membara, dia melewati desa kami.
Sapi dan kambing kami tergeletak mati membangkai.
Kukais- kais reruntuhan rumah kami, tak kulihat bekas peraduan dimana istri dan anakku setiap harinya tidur. Hanya putih, ditutup abu gunung merapi.
Aku masih mengenali radio tuaku, yang kini sudah menjadi gepeng, plastiknya meleleh, lengket dengan tanah.
Di sebelahnya kulihat gelas kalengku, tak lagi putih hijau, namun masih utuh. Ya, akan kubawa pulang gelas kaleng ini, untuk istri dan anakku, penanda kami pernah bahagia di lereng merapi itu.
Terimakasih, merapi… Kau masih meninggalkanku gelas kaleng. Akan kusimpan ini baik- baik…Senyumku getir…

nb: penulis terilhami dengan berita tentang merapi. saya sempat melihat berita di salah satu stasiun tv, disana ada seorang bapak yang rumahnya di lereng merapi, ketika itu,rumahnya sudah tidak ada, terbawa lahar merapi, dan yang tertinggal dari rumahnya adalah gelas kaleng tersebut. saya berusaha berempati kepada saudara- saudara kita yang di sana. Semoga mereka dikuatkan. AMIN

Category: Art  Tags: , ,  Leave a Comment

Tuimbe (Let’s Sing) Lyric – EndahNRhesa

When you start the day, my friend

Come on hold my hand
Start to sing and start to dance, come on take a chance
You can run and catch the sun, and your day has begun
Put a smile on your face, my friend?Praise the holy land

When you feel so sad, my friend
Come on hold my hand
Lift your life with a smile, my friend
Forget the bitter end
You can be a better man, the future is in your hand
Listen to your heart, my friend
Praise the holy land

Sing en das met my ah (sing and dance with together)

Waiting Lyric – EndahNRhesa


I start to write a love letter, when I first met you there
But I still keep it on my secret place
I’m not the only one who adores you anyway
But someday you will know that I am here

I’m just waiting for a moment to tell you
I’m waiting, and I’ll make you all mine
I’m just waiting, waiting, waiting…

I don’t care what people say about who you are and what you do
And all I see is that perfect lies in you
I believe that the time will come and we will be together
Oh I am so in love with you, and I’m falling, I’m falling for you

 

 

Hadiah

Yah, lagi- lagi hari Minggu, entah mengapa aku tidak menyukainya, dikala orang lain merindukan hari libur, aku justru menghindarinya, dan berharap, ya Tuhan, hapuskanlah hari Minggu…

” Deri, come here, and please help me.” Mama mulai mengganggu tidurku.
” Coming.”, jawabku malas.
” Pegang ini, ini, dan ini, please.”
Aku memegang berbagai barang, entah untuk apa, dan entah mengapa mama tidak meletakkannya begitu saja di lantai. Merepotkan. Kulihat mama berada dua meter dari tanah.
” Kenapa ga ditaro di lantai aja sih, Ma?”
” Ga praktis dong, Deri… Hand me the yellow one…”
Aku memberikan benda kuning, ah bintang ternyata. Aku baru saja menyadari bahwa mama sedang menghias pohon natal yang begitu tinggi.
” Ma, natal kan masih lama, kenapa sih harus repot- repot menghias pohon natal?” aku terdiam ” dan setinggi itu?”
Tak kudengar mama berbicara, Hanya senyuman yang membuat wajahnya semakin membulat.
” It’s a surprise!”, kata mama
Aku bosan menunggui mama menghias pohon natalnya, kembali lagi aku ke peraduan, memeluk guling, dan berharap agar cepat datang Senin.
” Deri!!!”
Kurasakan suara wanita di telingaku, meneriakkan namaku begitu keras, meninggalkan bunyi ‘nging’ di kepala. Aku tahu ini kebiasaan siapa.
” Monyet! budeg telingaku! kenapa sih setiap kau datang ke sini, tak pernah membiarkan aku bermesraan sama gulingku?”
” Kamu gak kangen adikmu yang paling cantik ini? Jauh- jauh lho aku datang ke sin.”, jawabnya sambil mengedip- ngedipkan mata. “mana hadiah buat aku?”
” Nih ucapan selamat. Selamat ulang tahun ya”, ucapku sambil menjabat tangannya, lalu membalikkan badan, dan kembali memeluk guling.
” Pelit!!! Weeek… Mama aja bikinin aku pohon natal gede banget.”
” Hei! Sadar dong, kamu berumur 20 tahun, dan masih suka mengoleksi pohon natal. What a weirdo!”, ucapku sambil memejamkan mata mencoba tidur.
” Sejak kapan mengoleksi pohon natal jadi hobi yang aneh? Makanya update donk, sekarang kan setiap cewek di dunia ini mengoleksi pohon natal. Apalagi di umur 20. Kamu sih terlalu lama tinggal di underground.”

Huh, kalau bukan karena ulangtahun ke 20 adikku ini, aku tak akan pulang ke rumah ini. Aku lebih nyaman di undergroundku sana. Berdesakan dengan berbagai jenis manusia di bis dan berjalan di trotoar, walaupun sambil menghirup debu jalanan dan asap knalpot mobil yang tidak diuji emisi.

“Ah, saatnya tiup lilin, ayo Der, kita keluar kamar.”, ajak adikku.
“Malas aku.”
“Ayolaaah, sekali seumur hidup aku berumur 20. Kalau besok aku mati, kamu pasti nyesel ga ikut tiup lilin sama aku.”, katanya membujukku
“Yayayayaya…”
Kuseret badanku, lalu kurapikan rambut sedikit, demi menghargai adikku. Seperti biasanya acara tiup lilin, pertama menyanyi, make a wish dan splash, lilinnya mati.
“Picture time!”, kata Papa

I wish I am not here… I wish I am not here… I wish I am not here… Kuhentak- hentakkan tanah, aku mulai gelisah. Sudah tidak tahan lagi aku disini, aku ingin pulang saja ke bawah sana. Mereka terlalu mengintimidasi aku. Cukup sudah kurasa. Lebih baik aku melangkahkan kaki untuk mengambil koper dan pergi.
Yak, lengkaplah sudah, mereka menyewa tukang foto untuk membuat ini menjadi sempurna. Gadis 20 tahun memang seharusnya difoto di sebelah bintang tertinggi di pohon natal. Menandakan gadis itu sudah siap terbang sendiri menjelajahi kehidupannya, dan aku tidak akan bisa berfoto bersama adikku.

Tukang foto itu menatapku curiga, menganggapku sebagai makhluk dunia lain. Aku benci pandangan seperti ini. Seperti menusuk- nusuk harga diriku.

“Ya, selamat berfoto lah kalian. Aku akan pulang.”, kataku ketus.
Kulihat pandangan mama dan papa sedih, mereka ingin berucap namun tak bisa, papa terlihat menyesal mengajak foto bersama. Sebelum aku melangkahkan kaki, adiiku menggamit tanganku cepat- cepat.
“Deri, tidak perlu seperti itu, kamu tetap kakakku yang paling luar biasa.”, dia terdiam sejenak, “Walaupun kamu tidak bersayap, walaupun kamu seperti manusia, dan kamu lebih suka berada di dunia bawah sana. Meskipun kamu tidak bisa terbang, dan lebih suka berjalan dengan kakimu, namun kamu adalah kakakku paling luar biasa. Yang menggendongku waktu sayapku terluka, dan ketika aku tidak bisa berjalan, dan kau yang mengajariku terbang, padahal kau tak bersayap. Kali ini aku akan menggendongmu sambil mengepakkan sayap. Berharap di bintang pohon natal ulangtahunku ke 20 ini.”, katanya sambil terbata- bata, lalu melanjutkan lagi, “harapanku di ulangtahun ke 20 ini adalah agar kau bisa terbang walaupun tanpa sayap, tauk!!”
Aku membeku, mematung, memikirkan adikku, begitu egoisnya aku jika aku tak mau mengabulkan permintaannya kali ini.
“Tapi adik tidak boleh menggendong kakaknya. Itu memalukan, tauk!” kataku sambil mencubit hidungnya.

Tak berapa lama, aku merasakan pelukan adikku, dan kakiku terangkat dari tanah. Inilah foto pertama keluarga kami di atas angin, di belakang bintang pohon natal harapan seorang gadis yang baru saja berusia 20 tahun. Ya, aku terbang tanpa sayap untuk yang pertamakalinya.

Category: Art  Tags: ,  Leave a Comment

Hello November

Wah, hampir dua bulan blog saya kosong begitu saja, tidak ada isinya, menyedihkan sepertinya. September cuman terisi pada tanggal 4 lalu null…

Hello November, mudah- mudahan November menjadi bulan yang baik, walaupun akhir- akhir ini pasti kita seringkali mendengar kabar yang tak baik, seperti banjir bandang wasior, tsunami di mentawai, gunung merapi yang mengeluarkan laharnya lagi, dan… cukup! Saya pribadi tidak mau mendengar kabar buruk lagi. Saya hanya bisa berdoa, semoga November menjadi awal yang baik untuk semuanya, dunia pada umumnya dan masyarakat Indonesia pada khususnya, terlebih lagi pribadi saya sendiri. Semoga menjadi lebih baik nantinya. Amin

Tulisan ini aku persembahkan untukmu, November, kubawa dengan penuh harapan, supaya kau menjadi awal dari segala sesuatu kebaikan, untukku, Indonesia, dan dunia. Kubawakan harapan orang- orang yang tanah dan rumahnya disapu oleh gelombang tsunami dan abu vulkanik merapi, agar kau mendengar keluh kesahnya, dan kau peluk mereka dengan hujan yang menyegarkan.

Merah Ungu Darahku

Aku suka merah. Merah itu Me-Rah. Merah itu mempunyai ruh. Kau tahu, merah darahku tak seperti darahmu, darahku merah keunguan. Kata ayah, bercampur dengan darah biru bangsawannya, dan darah merah cerah pribumi ibu. Darahku darah ungu. Darah yang merahnya tidak merah, dan birunya telah membaur. Kata ibu darahku dibutuhkannya untuk menyembuhkan hatinya, ketika ia ditampar ayah karena menggosongkan tempe bacam, dan ketika sayur asamnya terlalu asin. Setiap sekali ayah menamparnya, ibu menggores kulitku supaya tubuhku mengeluarkan darah ungu. Ibu menempelkan darahku ke pipinya yang merah, dan kadang membiru. Lukanya menghitam, namun sakitnya menghilang. Kadangkala aku menawarkan, untuk mengusapkan darahku ke matanya, yang selalu mengeluarkan air mata sehabis dipukul ayah. Namun ibu menggeleng, katanya “Air mata tidak berasal dari mata, nak, namun dari hati.”. Kemudian aku menawarkan darahku agar diusapkan pada hatinya. Lagi- lagi ia menggeleng. “Belum saatmu.”. Aku hanya butuh menunggu waktu hingga darahku bisa menghilangkan air mata ibu.

 

 

 

 

 

Belajar Tanpamu

Jangan pergi dari aku karena aku belum belajar hidup tanpa kamu
Kamu matahariku, penerang hidupku
Sentuhan fajar di setiap nafasku dan belaian senja di setiap tidurku

Hembusan angin lembah mandalawangi yang kau berikan padaku, kini masih kusimpan dalam sebuah botol
Ketika kurindu padamu, kuambil botol itu lalu kudengarkan suara lagunya
Waktu itu, kaunyanyikan lagu cinta yang kau dendangkan bersama sang bayu
Tak ada dentingan gitar, namun gemericik mata air dan tarian edelweis kau sertakan dalam simponi mu.
Kadangkala kurasakan kerinduanku memudar seiring dengan alunan lagu botolmu
Seringkali kupertanyakan mengapa kamu begitu jauh, namun kau terus menjanjikan, sebentar lagi sayang, aku akan di sampingmu.

Puisi dari puncak gunung cikuray yang kau selipkan di kala kau menggendongku dan membawaku turun dari sana, terus kubaca berulangkali sampai kujenuh, namun aku tak pernah jenuh.
Masih saja teringat bagaimana kau terjatuh dan berkata : “Apakah kamu baik- baik saja, sayang?”, sedangkan kau terjatuh karena menggendongku.
“Sekarang mungkin kau bisa tertawa karena kau melihatku terjatuh”, katamu waktu itu. Sedangkan aku menyembunyikan air mata haru karena melihat darah mengalir dari lututmu yang membiru terantuk batu.
“Iya”, kubilang sambil tersenyum getir.
Lalu aku tersentuh, dan merasakan bahwa kau membuatku jatuh cinta lagi kepadamu karena kau berhasil meluluhkan hatiku, bukan karena sekuntum mawar, bukan karena cincin berlian, namun karena ketulusan hati untuk memberi tanpa mengharap kembali.

Aku memberikan lagu untuk kita sayang, lagu yang bercerita tentang indahnya cinta, seperti indahnya puncak gunung slamet yang kau ceritakan padaku waktu itu.
Walaupun aku tak mengerti betapa indahnya, namun aku melihat keindahannya melalui cerita, melalui gambaran yang kau berikan kepadaku.
Aku berikan lagu untuk kita, lagu yang menceritakan tentang bagaimana kita saling memaki, dan bagaimana kita saling memberi.
Lagu yang menceritakan deringan ponselku tiap malam, dimana aku menunggu suaramu dari seberang sana. Saat itu aku selalu bertanya, kapan aku dapat memelukmu, lalu kita bermimpi bersama lagi.
Lagu yang menceritakan pesan pesan rindu dari setiap pagi pagi ku,lalu menuliskan selamat malam sebelum aku memejamkan mata.

Lalu aku terpikir, aku tak mau belajar hidup tanpamu, karena tanpamu sama saja tanpa kehidupan, jarak membuat aku sesak napas, tak bisa tidur,apalagi tanpamu.

Category: Art  Tags: ,  Leave a Comment