Tag-Archive for » prose «

Puisi Hujan

Perhatikan saja, setiap orang yang memandang hujan
Lalu merindukan panas mentari dan mengumpat kenapa hujan lagi
Namun ketika mentari itu datang, mereka beranjak pergi
Bukan berterimakasih atas sang hari

Perhatikan saja, setiap orang yang memandang hujan
Mengambil gitar untuk memainkan lagu
Sambil mengingat kekasih yang telah berlalu
Mereka menciptakan lagu hujannya

Perhatikan saja, setiap orang yang memandang hujan
Lalu menangis, menemani hujan membasahi bumi
Lalu menjadi sendu, tiba- tiba kelabu
Menantikan seseorang yang dulu ada, dan sekarang tak akan kembali

Perhatikan saja, setiap orang yang memandang hujan
Kembali tak acuh dengan rintiknya
Lalu menulis puisi tentang orang lain yang memandang hujan
Tidak pernah peduli hujan dan terang, kemudian tertidur

Siapakah yang mengharapkan hujan?

Category: Art  Tags: , , , ,  One Comment

Basa Basi Hadiah Ulang Tahun

Dear Monyetku,

Betul, ini adalah surat untuk kamu. Kamu pasti tahu kalau aku sayang kamu. Tidak pernah seharipun aku melewatkan kamu dalam mimpi- mimpiku. Kamu juga pasti menanti mimpi- mimpi kita yang belum terwujud. Tenang saja, waktu tidak akan lari kemana ketika aku menggenggam tanganmu. Kita akan meninggalkan waktu jauh di belakang saat kita melangkah. Dimana ada kamu, waktu duniaku menjadi terhenti walaupun waktumu terus berlari. Waktu itu juga yang sudah menjadikan kamu seperti sekarang, yang lebih kuat dan bahagia. Lebih gembira, walaupun tak ada yang menjaga.

Eh, sadarkah kamu, kita selalu membagi mimpi bersama. Itu yang membuat kita bahagia. Aku bahagia. Apalagi ketika aku melihatmu memandang tembok dengan tatapan kosong, memikirkan sesuatu yang masiv bagimu. Kamu begitu mempesona, ya… setidaknya di mataku. Apalagi ketika melihat kerutan di ujung matamu ketika kau tertawa.

Sudah cukup basa basinya. Aku hanya ingin mengucapkan selamat sayang, sudah menempuh 9125 hari di dunia. Kamu berhasil melaluinya bahkan dengan cara yang luar biasa, dengan cara istimewa. Sampai detik ini pun aku masih bertanya- tanya, bagaimana bisa kamu bertahan hidup dengan keadaan seperti dulu. Selamat telah mencapai apa yang sudah kamu inginkan dan belum kamu dapatkan. Sesekalinya kamu harus bersyukur, walaupun dalam hati.

Berarti, aku tinggal menanti harapan- harapan yang tidak disertai dengan tiupan lilin di hari ulangtahunmu ini. Aku percaya, bahwa setiap harapan akan terwujud, diiringi dengan doa, dan kerja keras yang selama ini kau lakukan.

Monyetku, ini bukan pisang, tapi surat untukmu. Semoga kau bahagia, tidak hanya di hari ulangtahunmu. Tapi juga di hari lain, apalagi ketika bersamaku.

 

Love,

Marmut yang baru tercipta tadi malam

 

Teruntuk: Kristian Mahendra Keize
Selamat ulang tahun yang ke 25

Category: Art  Tags: , , ,  One Comment

Lubang Air Mata dan Korelasi Terhadap Ayah

Aku tahu, aku terlahir setelah 31 tahun kau bernafas, setelah hampir 10 bulan kau menunggu. Mungkin terlalu jauh umur kita, kau pikir. Aku memang tak pernah mengerti apa yang kau pikirkan dan jalan pikiranmu. Memang kita tak pernah jadi sahabat, Pak. Sebagaimana aku mencoba. Dari sapaan sederhana, kelitikan, tertawaan, sampai dengan pembahasan ikatan karbon, kimia industri, obat- obatan tradisional, dan filosofi kitab suci. Kadang aku tak mau pulang, hanya dengan memikirkan, semakin lama aku di rumah, semakin kita sering beradu mulut, atau berakhir dengan tangisan diam- diamku ketika aku terlalu kesal dan tak bisa mengungkapkan apa yang ada di hatiku, di otakku.

Memang, aku terlahir tak sempurna. Semua orang seperti itu, Pak. Aku bayi istimewa, terlahir tanpa lubang air mata. Setelah keluar dari rahim ibu, aku hanya berteriak, tanpa menangis. Aku jadi bertanya- tanya, apakah kau bersedih, apakah curiga, panik, atau biasa saja. Tahu- tahu, aku sudah mendapatkan lubang air mata baru. Ketika kini aku menangis, aku tersadar, lubang air mata berperan begitu besar. Seringkali aku menyesali, mengapa kau harus membuatkanku lubang air mata. Karena lubang artifisial itu, air mataku sering terkuras. Habis. Apalagi ketika kau tak pernah mau peduli, bagaimana kerasnya duniaku.

Kau ayah, kau bertitah, kau menunjuk, kau memerintah. Aku anak, aku menurut, aku menunduk. Apakah aku boleh menolak, saat kau memintaku masuk jurusan kedokteran? Itu ambisimu, Pak. Kau ingin menjadi seorang dokter. Aku tidak. Apakah kau mendengarkan aku ketika aku ingin mengatakan bahwa SPMB waktu itu salah tempat? Kau tuduh aku tak siap, tak pandai mengatur diri. Bukan salahku, Pak. Salah mereka, yang tak becus mengatur jadwal. Dua ribu anak lainnya terlantar, termasuk aku. Kau berkata, “Kamu mencoba mengajari aku?”. Aku menangis, sedih, karena kau tak pernah mau peduli. Hatimu tak bertelinga, pikiranmu terlalu dangkal. Aku anakmu. Dan kau tidak mendengarkanku. Tak sadarkah, kau waktu itu mulai menebarkan benih benci di diri anakmu.

Aku setidaknya ingin kau mendengar apa yang bisa kau dengar. Aku perempuan, Pak. Aku berpikir menggunakan hati. Bertindak dengan sedikit rasio, dan menggunakan perasaan untuk berbicara. Sedang kau tak pernah mengerti. “Cuma begitu aja nangis!”, serumu. Apakah aku harus menjadi seorang anak laki- laki sehingga aku bisa mengerti inginmu. Padahal aku sangka ikatan fusi begitu erat diantara kita. Aku terlalu banyak mewarisi sifatmu. Aku terus melatih diri agar tak sakit hati saat kau berbicara. Tapi kau anggap aku tak mendengarkanmu.

Terlalu banyak asumsi- asumsi berkecamuk di pikiranku. Berkelahi sendiri seperti suporter sepakbola yang melihat kesebelasannya kalah di lapangan hijau. Tolong beritahu aku, Pak. Dengan hati. Apa yang kau maksudkan ketika kau bertindak dan berucap. Ketika aku selesai menuliskan ini, aku akan mendidik diri, untuk mengungkapkan bahwa aku sayang Bapak. Dan aku tak akan berhenti berharap bahwa kau akan berkata, “Anakku, aku mencintaimu.”

Harapanku, Mak…

Katanya aku dewasa sekarang,
namun kubilang kepada Mak,
“Mak,masukkan lagi aku kedalam perutmu.”
Agar aku tak merasakan lagi panasnya udara,
atau matahari yang membara.
Agar aku tak kadung rindu pada angin gunung,
atau keinginan main bersama burung.

Mak, kalau tak bisa kau masukkan lagi aku ke dalam perutmu,
bilangkan saja pada Sang Maulana,
agar aku bisa menjadi bayi lagi.
Menyusu tetekmu yang empuk dan hangat,
dan menangis saat tak ada yang menyumpal mulutku.
Aku bisa berak di celana,
itu bukan bencana.

Aku ingin Mak, tak merasakan kerasnya dunia.
Harus bangun pagi- pagi buta,
lalu mencari kerja.
Istriku minta cerai, Mak,
sudah enam bulan dia tak kunafkahi.

Kembalikan aku Mak,
ke dalam perutmu dan tak usah dilahirkan lagi.

Category: Art  Tags: , , , ,  Leave a Comment

Pergi???

Aku kembali pada kamar berukuran 3×3 Meter itu. Ruangannya ditemani lemari kayu yang lapuk dimakan rayap. Ketika kutarik lacinya, debu putih memenuhihidungku, membuatku terbatuk, dan mengumpat “sialan!”. Kujejalkan kembai laci yang berlubang itu. Dimensinya tak lagi serasi dengan inangnya, kurasa laci itu merasa tak diharapkan lagi. Serbuk kayu tadi menaburi tumpukan bajuku, membuatku berpikir untuk mencucinya lagi, namun kuabaikan. Kualihkan pandangan ke setumpuk pakaian kotor dalam keranjang, kunikmati bentuknya lalu terdiam. Kuambil satu, lalu kukembangkan cuping hidung. Kurenggut oksigen dalam- dalam melalui sela-  sela seratnya. Apak dan kecut, “Acem ih…”, katamu sambil tersenyum. Kurebahkan tubuh sambil kututupi wajahku dengan bantal.

***

Kamu seperti alkohol, nikmat, sedikit pahit saat diteguk, menghangatkan tubuh, dan memabukkan. Membuat aku tertawa saat tidak ada apa- apa dan membuatku menangis saat kau tiada. Aku baru tahu kau luar biasa, saat rokok dan vodka tidak bisa menggantikan kehadiranmu. Kau yang membuatku berhenti, kau yang membuatku memulai lagi. Menyedihkan, aku yang biasanya tahu apa yang akan terjadi pada diriku dalam setengah jam sebelumnya, sekarang, aku terus merenungi masa setengah tahun lalu.  Terlalu malu untuk memintamu kembali, aku sekarat hampir mati. Sekarang bahkan aku tak tahu kau kemana lagi. Mungkin kau ke pantai, atau ke gunung, atau bisa jadi kau di perempatan jalan, meminta- minta, mengamen, menjajakan permen, tahu, dan aqua.

Tiga tahun kau buat aku menderita karena kebersamaan kita. Kalau kau akhirnya pergi juga, kenapa kita ditakdirkan bersua. Ini salah siapa?

Terimakasih Untuk Nada dan Penciptanya

Terimakasih kepada pencipta nada, karena dimana kamu ada, disitu ada cinta. Nada tak pernah lepas dari energi, dunia Sang Bijaksana, dan ketika aku merasa ada nada, pandanganku jadi berwarna. Pencipta nada seharusnya memiliki semesta, bukan mereka yang biasa bicara tentang senjata, atau perampas hak orang jelata. Aku memuja dirimu wahai pencipta nada. Kutemukan imortalitas sejati penikmat alam semesta ketika kugabungkan nada dengan mimpi yang belum menemui realita. Ketika pertama aku mengucap nada, kurasakan getar kimia yang belum pernah kualami sebelumnya. Semua mengandung misteri dan menyangkut hati.

Karena tak pandai aku merangkai kata, kugabung nada menjadi cerita.

Category: Art  Tags: , ,  Leave a Comment

Mimpi

Tadi malam aku memintamu menginap di apartemenku, hanya sekedar untuk melepas rindu. Kau memang tak tersentuh, bahkan oleh tanganmu sendiri. Aku cukup bahagia melihat kau tertidur pulas di karpet bulu sambil berselimutkan sleeping bag yang biasa kubawa ke gunung. Di udara Jakarta yang sepanas ini, masih saja kau tidak bisa tidur tanpa selimut, walaupun nantinya saat bangun kau akan menemukan dirimu dalam keadaan basah seperti keluar dari kolam renang.

Pukul 3 pagi, waktu yang katanya begitu sakral, aku terbangun oleh mimpi yang menyebalkan. Di mimpiku, tidurku ditemani oleh seseorang laki- laki tak kukenal. Ketika bangun, dia mencium bibirku, lalu kucium bibirnya. Lalu dia tertawa, dia merasa aku miliknya. Harga diriku mati terbawa angin. Cih. Lalu aku berlari mencari kamu, namun kamu tak ada. Kamu hilang. Tawanya terus menggema di telingaku. Aku terbangun.

Saat mataku terbuka, kumelihat langit- langit kamar, lalu samar- samar kurasakan tanganmu memelukku dari belakang. Ternyata kau tak lagi berselimutkan karpet bulu, kau rebut selimutku.

Senyumku mengembang seperti anak kecil yang baru saja dibelikan balon. Ah, semoga tadi tak hanya mimpi. :)

Sajak yang Kutinggalkan di Lereng Merapi

Ketika merapi itu mulai bergemuruh, dan memuntahkan laharnya,

aku dan keluargaku terpaksa meninggalkan rumah dan ternakku.
Berharap kami dapat menyambung hidup dan masih tetap utuh bersama.
Kulihat istriku menggendong bayi kami yang masih menyusu ibunya, dia lahir 3 bulan yang lalu.
Tak terbayangkan meninggalkan desa kami, dimana aku mencari rumput untuk sapi dan kambingku,
dimana aku mendengarkan lantunan gending dari radio tua setiap sore dengan ditemani teh manis buatan istriku yang diseduhnya di dalam gelas kaleng hijau putih.
Ya, aku akan bertahan hidup, demi mereka yang kucintai. Itu tekadku.
Beberapa hari setelah merapi mereda, aku berjanji pada diri sendiri untuk kembali sejenak ke rumah kami, untuk sekedar mengambil baju si bayi, atau hanya melepas rindu pada radio tua kami.
Ketika hari itu datang, ingin jatuh airmataku, lemas kakiku, dingin tubuhku. Tak kulihat rumah kami yang dulu.
Raib, hilang dimakan muntahan merapi yang membara, dia melewati desa kami.
Sapi dan kambing kami tergeletak mati membangkai.
Kukais- kais reruntuhan rumah kami, tak kulihat bekas peraduan dimana istri dan anakku setiap harinya tidur. Hanya putih, ditutup abu gunung merapi.
Aku masih mengenali radio tuaku, yang kini sudah menjadi gepeng, plastiknya meleleh, lengket dengan tanah.
Di sebelahnya kulihat gelas kalengku, tak lagi putih hijau, namun masih utuh. Ya, akan kubawa pulang gelas kaleng ini, untuk istri dan anakku, penanda kami pernah bahagia di lereng merapi itu.
Terimakasih, merapi… Kau masih meninggalkanku gelas kaleng. Akan kusimpan ini baik- baik…Senyumku getir…

nb: penulis terilhami dengan berita tentang merapi. saya sempat melihat berita di salah satu stasiun tv, disana ada seorang bapak yang rumahnya di lereng merapi, ketika itu,rumahnya sudah tidak ada, terbawa lahar merapi, dan yang tertinggal dari rumahnya adalah gelas kaleng tersebut. saya berusaha berempati kepada saudara- saudara kita yang di sana. Semoga mereka dikuatkan. AMIN

Category: Art  Tags: , ,  Leave a Comment

Hello November

Wah, hampir dua bulan blog saya kosong begitu saja, tidak ada isinya, menyedihkan sepertinya. September cuman terisi pada tanggal 4 lalu null…

Hello November, mudah- mudahan November menjadi bulan yang baik, walaupun akhir- akhir ini pasti kita seringkali mendengar kabar yang tak baik, seperti banjir bandang wasior, tsunami di mentawai, gunung merapi yang mengeluarkan laharnya lagi, dan… cukup! Saya pribadi tidak mau mendengar kabar buruk lagi. Saya hanya bisa berdoa, semoga November menjadi awal yang baik untuk semuanya, dunia pada umumnya dan masyarakat Indonesia pada khususnya, terlebih lagi pribadi saya sendiri. Semoga menjadi lebih baik nantinya. Amin

Tulisan ini aku persembahkan untukmu, November, kubawa dengan penuh harapan, supaya kau menjadi awal dari segala sesuatu kebaikan, untukku, Indonesia, dan dunia. Kubawakan harapan orang- orang yang tanah dan rumahnya disapu oleh gelombang tsunami dan abu vulkanik merapi, agar kau mendengar keluh kesahnya, dan kau peluk mereka dengan hujan yang menyegarkan.

Merah Ungu Darahku

Aku suka merah. Merah itu Me-Rah. Merah itu mempunyai ruh. Kau tahu, merah darahku tak seperti darahmu, darahku merah keunguan. Kata ayah, bercampur dengan darah biru bangsawannya, dan darah merah cerah pribumi ibu. Darahku darah ungu. Darah yang merahnya tidak merah, dan birunya telah membaur. Kata ibu darahku dibutuhkannya untuk menyembuhkan hatinya, ketika ia ditampar ayah karena menggosongkan tempe bacam, dan ketika sayur asamnya terlalu asin. Setiap sekali ayah menamparnya, ibu menggores kulitku supaya tubuhku mengeluarkan darah ungu. Ibu menempelkan darahku ke pipinya yang merah, dan kadang membiru. Lukanya menghitam, namun sakitnya menghilang. Kadangkala aku menawarkan, untuk mengusapkan darahku ke matanya, yang selalu mengeluarkan air mata sehabis dipukul ayah. Namun ibu menggeleng, katanya “Air mata tidak berasal dari mata, nak, namun dari hati.”. Kemudian aku menawarkan darahku agar diusapkan pada hatinya. Lagi- lagi ia menggeleng. “Belum saatmu.”. Aku hanya butuh menunggu waktu hingga darahku bisa menghilangkan air mata ibu.