Tag-Archive for » sajak «

-?-

Tidak bolehkah aku sedikit terpesona,
pada hitam keriting rambutmu yang selalu kau cukur dua senti di atas kulit kepala
atau pada legam tubuhmu yang menjelaga karena pigmen yang tak merata

Kamu harusnya memang selalu ada,
meskipun hanya untuk memujaku semata.
Setiap aku mengucapkan selamat di pagi hari karena masih bisa bernapas lega,
walaupun dunia sudah mulai berduka

Sumbang nyanyianmu meretas sukma,
kapankah kita akan mulai mencinta?
Ternyata kamu hidup di dunia maya…

Category: Art  Tags: , ,  Leave a Comment

Puisi Hujan

Perhatikan saja, setiap orang yang memandang hujan
Lalu merindukan panas mentari dan mengumpat kenapa hujan lagi
Namun ketika mentari itu datang, mereka beranjak pergi
Bukan berterimakasih atas sang hari

Perhatikan saja, setiap orang yang memandang hujan
Mengambil gitar untuk memainkan lagu
Sambil mengingat kekasih yang telah berlalu
Mereka menciptakan lagu hujannya

Perhatikan saja, setiap orang yang memandang hujan
Lalu menangis, menemani hujan membasahi bumi
Lalu menjadi sendu, tiba- tiba kelabu
Menantikan seseorang yang dulu ada, dan sekarang tak akan kembali

Perhatikan saja, setiap orang yang memandang hujan
Kembali tak acuh dengan rintiknya
Lalu menulis puisi tentang orang lain yang memandang hujan
Tidak pernah peduli hujan dan terang, kemudian tertidur

Siapakah yang mengharapkan hujan?

Category: Art  Tags: , , , ,  One Comment

Terimakasih Untuk Nada dan Penciptanya

Terimakasih kepada pencipta nada, karena dimana kamu ada, disitu ada cinta. Nada tak pernah lepas dari energi, dunia Sang Bijaksana, dan ketika aku merasa ada nada, pandanganku jadi berwarna. Pencipta nada seharusnya memiliki semesta, bukan mereka yang biasa bicara tentang senjata, atau perampas hak orang jelata. Aku memuja dirimu wahai pencipta nada. Kutemukan imortalitas sejati penikmat alam semesta ketika kugabungkan nada dengan mimpi yang belum menemui realita. Ketika pertama aku mengucap nada, kurasakan getar kimia yang belum pernah kualami sebelumnya. Semua mengandung misteri dan menyangkut hati.

Karena tak pandai aku merangkai kata, kugabung nada menjadi cerita.

Category: Art  Tags: , ,  Leave a Comment

Mimpi

Tadi malam aku memintamu menginap di apartemenku, hanya sekedar untuk melepas rindu. Kau memang tak tersentuh, bahkan oleh tanganmu sendiri. Aku cukup bahagia melihat kau tertidur pulas di karpet bulu sambil berselimutkan sleeping bag yang biasa kubawa ke gunung. Di udara Jakarta yang sepanas ini, masih saja kau tidak bisa tidur tanpa selimut, walaupun nantinya saat bangun kau akan menemukan dirimu dalam keadaan basah seperti keluar dari kolam renang.

Pukul 3 pagi, waktu yang katanya begitu sakral, aku terbangun oleh mimpi yang menyebalkan. Di mimpiku, tidurku ditemani oleh seseorang laki- laki tak kukenal. Ketika bangun, dia mencium bibirku, lalu kucium bibirnya. Lalu dia tertawa, dia merasa aku miliknya. Harga diriku mati terbawa angin. Cih. Lalu aku berlari mencari kamu, namun kamu tak ada. Kamu hilang. Tawanya terus menggema di telingaku. Aku terbangun.

Saat mataku terbuka, kumelihat langit- langit kamar, lalu samar- samar kurasakan tanganmu memelukku dari belakang. Ternyata kau tak lagi berselimutkan karpet bulu, kau rebut selimutku.

Senyumku mengembang seperti anak kecil yang baru saja dibelikan balon. Ah, semoga tadi tak hanya mimpi. :)

Sajak yang Kutinggalkan di Lereng Merapi

Ketika merapi itu mulai bergemuruh, dan memuntahkan laharnya,

aku dan keluargaku terpaksa meninggalkan rumah dan ternakku.
Berharap kami dapat menyambung hidup dan masih tetap utuh bersama.
Kulihat istriku menggendong bayi kami yang masih menyusu ibunya, dia lahir 3 bulan yang lalu.
Tak terbayangkan meninggalkan desa kami, dimana aku mencari rumput untuk sapi dan kambingku,
dimana aku mendengarkan lantunan gending dari radio tua setiap sore dengan ditemani teh manis buatan istriku yang diseduhnya di dalam gelas kaleng hijau putih.
Ya, aku akan bertahan hidup, demi mereka yang kucintai. Itu tekadku.
Beberapa hari setelah merapi mereda, aku berjanji pada diri sendiri untuk kembali sejenak ke rumah kami, untuk sekedar mengambil baju si bayi, atau hanya melepas rindu pada radio tua kami.
Ketika hari itu datang, ingin jatuh airmataku, lemas kakiku, dingin tubuhku. Tak kulihat rumah kami yang dulu.
Raib, hilang dimakan muntahan merapi yang membara, dia melewati desa kami.
Sapi dan kambing kami tergeletak mati membangkai.
Kukais- kais reruntuhan rumah kami, tak kulihat bekas peraduan dimana istri dan anakku setiap harinya tidur. Hanya putih, ditutup abu gunung merapi.
Aku masih mengenali radio tuaku, yang kini sudah menjadi gepeng, plastiknya meleleh, lengket dengan tanah.
Di sebelahnya kulihat gelas kalengku, tak lagi putih hijau, namun masih utuh. Ya, akan kubawa pulang gelas kaleng ini, untuk istri dan anakku, penanda kami pernah bahagia di lereng merapi itu.
Terimakasih, merapi… Kau masih meninggalkanku gelas kaleng. Akan kusimpan ini baik- baik…Senyumku getir…

nb: penulis terilhami dengan berita tentang merapi. saya sempat melihat berita di salah satu stasiun tv, disana ada seorang bapak yang rumahnya di lereng merapi, ketika itu,rumahnya sudah tidak ada, terbawa lahar merapi, dan yang tertinggal dari rumahnya adalah gelas kaleng tersebut. saya berusaha berempati kepada saudara- saudara kita yang di sana. Semoga mereka dikuatkan. AMIN

Category: Art  Tags: , ,  Leave a Comment

Hello November

Wah, hampir dua bulan blog saya kosong begitu saja, tidak ada isinya, menyedihkan sepertinya. September cuman terisi pada tanggal 4 lalu null…

Hello November, mudah- mudahan November menjadi bulan yang baik, walaupun akhir- akhir ini pasti kita seringkali mendengar kabar yang tak baik, seperti banjir bandang wasior, tsunami di mentawai, gunung merapi yang mengeluarkan laharnya lagi, dan… cukup! Saya pribadi tidak mau mendengar kabar buruk lagi. Saya hanya bisa berdoa, semoga November menjadi awal yang baik untuk semuanya, dunia pada umumnya dan masyarakat Indonesia pada khususnya, terlebih lagi pribadi saya sendiri. Semoga menjadi lebih baik nantinya. Amin

Tulisan ini aku persembahkan untukmu, November, kubawa dengan penuh harapan, supaya kau menjadi awal dari segala sesuatu kebaikan, untukku, Indonesia, dan dunia. Kubawakan harapan orang- orang yang tanah dan rumahnya disapu oleh gelombang tsunami dan abu vulkanik merapi, agar kau mendengar keluh kesahnya, dan kau peluk mereka dengan hujan yang menyegarkan.