Tag-Archive for » short story «

23

Hari ini aku bertanya- tanya, ketika Bapak sedang panik karena istrinya akan melahirkan anak pertama. Seperti apakah dia? Ketika ibu merasakan kesakitan bukaan di rahimnya, seperti apa wajahnya? Ketika seorang anak manusia akan memulai mencari dosa, apa yang dipikirkannya?

Sejak pertama aku memandang cermin, aku langsung jatuh cinta. Terpesona akan keindahan diri sendiri. Lalu memuji Sang Pencipta, mengapa Dia bisa membuat makhluk seperti ini. Hormatku ya Tuhan, atas segala sentuhan Mu pada diriku.

Aku kini 23.

Pandangan Mata Ilham

Sudah limabelas ribu kali aku memejamkan mata, mencoba untuk tertidur. Domba yang aku coba hitung juga sudah habis. Mereka terlalu kelelahan melompat- lompat di pikiranku. Kuistirahatkan saja mereka. Biar kenangan kemarin, kemarin lusa, dan kemarinnya lagi berputar- putar di kepalaku. Aku sendiri tidak tahu kenapa kamu terus bermain di sini, pertama di depan kelasku. Lalu di lapangan basket, lapangan futsal, lama kelamaan kamu bermain di kepalaku. Kamu serakah. Hatikupun kau jadikan tempat bermain.

Pertamakali aku jatuh cinta, ya dengan kamu.  Kamu yang mengantarkan getaran itu setiap kali melewati kelasku. Kamu satu- satunya lelaki yang berani menatap mataku secara langsung, walaupun tanpa tersenyum. Menghantarkan sesuatu yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya dengan orang lain.

Aku selalu menantikan jam istirahat selama limabelas menit itu, karena kamu akan berbetah- betahan di kelasku sambil memainkan lagu Kasih Tak Sampai dengan gitar dan suara serakmu. Lalu aku akan memilih untuk mencuri pandang denganmu dan tidak menuju kantin untuk makan siang. Menahan lapar buat kamu. Terdengar romantis. Padahal sebelumnya aku tidak tahu siapa namamu.

Aku tak sabar untuk menunggu esok hari tiba. Menunggu kamu mendatangi kelasku untuk meminjam buku pelajaran yang ketinggalan kepada Billy. Kemudian mata kita akan bertemu, menghasilkan ikatan kimia dan memunculkan hormon endorphin di kepalaku.

Sekolah tak pernah seindah ini sebelum kamu memandangku. Hari ini aku akan memberanikan diri untuk berkenalan denganmu. Aku akan main ke kelasmu dan berpura- pura menanyakan namamu. Sudah belasan kali kulatih ini di cermin. Walaupun begitu, aku masih gemetar dan sakit perut begitu wajahmu terbayang di mataku.

“Hei”, kataku memberanikan diri

“Hei!”

“Mmm… boleh pinjem buku sejarah? Punyaku ketinggalan di rumah.”, trik nomor satu, kataku dalam hati.

“Oh, boleh. Kebetulan aku bawa. Sebentar ya… Hmmm… ini dia bukunya.”, katanya sambil tersenyum manis.

“Thanks! By the way, aku Sheila.”, kataku sambil mengulurkan tangan.

“Oh, aku Ilham.”, jawabnya.  “Aku sudah tahu kok nama kamu.”

Wow… kurasakan detak jantung yang semakin kencang. Sepertinya ini pertanda yang baik.

“Oh ya? Tau dari mana?”, semoga aku bisa menyembunyikan kebahagiaanku yang berlebih.

“Haha… pasti tahu lah. Kamu kan yang duduk di depan Ninda?”, jawabnya

“Iya…”

Wow, ternyata dia sampai hapal siapa teman di belakangku! Aku ingin melompat- lompat bahagia.

“Eh, nanti kalau udah masuk kelas, tolong sampaikan salam aku ya buat dia. Ehm… sori nih, kita baru kenalan tapi aku udah begini. Kamu tahu gak, dia lagi naksir siapa?”, tanyanya sambil malu- malu.

“Oh…”, aku mencoba menyusun kata.

Jadi selama ini Ninda? Astaga… Aku terlalu bodoh untuk mengira bahwa dia memandangku. Selalu berjaga di kelasku setiap jam istirahat demi melihatku. Ternyata bukan. Arrgh… ingin kumaki diriku.

“Oh…ehm… Ninda ya? Sayangnya dia udah punya pacar.”, jawabku kaku.

“Masa? Aku gak pernah liat dia jalan sama seseorang…”

“iya, pacarnya itu guru lesnya.”, kataku serius.

“I see.”

Ilham, cahayamu lalu redup seketika. Jika kamu lilin, harusnya aku yang menyalakan kamu.

Tinggalkan Ninda, Ilham… Malam ini aku tidak bisa terpejam lagi.

#FFDadakan @nulisbuku

Basa Basi Hadiah Ulang Tahun

Dear Monyetku,

Betul, ini adalah surat untuk kamu. Kamu pasti tahu kalau aku sayang kamu. Tidak pernah seharipun aku melewatkan kamu dalam mimpi- mimpiku. Kamu juga pasti menanti mimpi- mimpi kita yang belum terwujud. Tenang saja, waktu tidak akan lari kemana ketika aku menggenggam tanganmu. Kita akan meninggalkan waktu jauh di belakang saat kita melangkah. Dimana ada kamu, waktu duniaku menjadi terhenti walaupun waktumu terus berlari. Waktu itu juga yang sudah menjadikan kamu seperti sekarang, yang lebih kuat dan bahagia. Lebih gembira, walaupun tak ada yang menjaga.

Eh, sadarkah kamu, kita selalu membagi mimpi bersama. Itu yang membuat kita bahagia. Aku bahagia. Apalagi ketika aku melihatmu memandang tembok dengan tatapan kosong, memikirkan sesuatu yang masiv bagimu. Kamu begitu mempesona, ya… setidaknya di mataku. Apalagi ketika melihat kerutan di ujung matamu ketika kau tertawa.

Sudah cukup basa basinya. Aku hanya ingin mengucapkan selamat sayang, sudah menempuh 9125 hari di dunia. Kamu berhasil melaluinya bahkan dengan cara yang luar biasa, dengan cara istimewa. Sampai detik ini pun aku masih bertanya- tanya, bagaimana bisa kamu bertahan hidup dengan keadaan seperti dulu. Selamat telah mencapai apa yang sudah kamu inginkan dan belum kamu dapatkan. Sesekalinya kamu harus bersyukur, walaupun dalam hati.

Berarti, aku tinggal menanti harapan- harapan yang tidak disertai dengan tiupan lilin di hari ulangtahunmu ini. Aku percaya, bahwa setiap harapan akan terwujud, diiringi dengan doa, dan kerja keras yang selama ini kau lakukan.

Monyetku, ini bukan pisang, tapi surat untukmu. Semoga kau bahagia, tidak hanya di hari ulangtahunmu. Tapi juga di hari lain, apalagi ketika bersamaku.

 

Love,

Marmut yang baru tercipta tadi malam

 

Teruntuk: Kristian Mahendra Keize
Selamat ulang tahun yang ke 25

Category: Art  Tags: , , ,  One Comment

Jalan Menuju Mimpi

Kebiasaan saya akhir- akhir ini adalah menulis tanpa tau apa yang saya tulis. Berdasarkan peristiwa setiap harinya yang saya lewati, saya coba untuk menulis. Namun terantuk di suatu bagian. Sama seperti ketika saya melangkah, lalu menemukan jalan buntu, saya bukannya berbalik untuk mencari arah yang benar, tapi saya hanya terdiam. Merenungi diri, kenapa saya bisa sampai disini, siapa yang salah, saya yang salah atau ada orang lain yang berperan sehingga saya bisa sampai di tempat ini.

Sekarang adalah fase dimana saya sadar, bahwa merenungi jalan buntu di hadapan saya kurang begitu berarti. Namun, saya menemukan suatu hal baru, daripada saya beputar untuk mencari arah yang benar atau menanyakan arah kepada seseorang, lebih baik saya membongkar jalan buntu. Mendobrak kesadaran yang ada. Saya akan membiarkan kaki terus berjalan dan insting yang menuntun. Ketika ada matahari, biarlah saya berjalan menuju matahari sampai pukul duabelas siang. Lalu beristirahat untuk sekedar mengambil nafas atau minum untuk mengusir haus.

Kaki saya mulai beranjak, untuk membuat kerangka baru dari setiap cuilan kilasan hidup saya bersama orang- orang terdekat dan orang- orang terjauh. Hanya untuk harapan sederhana, yaitu mewujudkan mimpi kecil. Karena hidup adalah perjalanan menuju mimpi…

Gracias

Jakarta-Bandung-Jakarta

Pernahkan kamu merasakan ingin sekali mempunyai sesuatu?

Aku sedang ingin. Ingin sekali. Tapi rasa rasanya tidak bisa tercapai. Ingin apa? Ingin ada embel- embel S.T di belakang namaku…

Ya… Emang klise sih, tapi bukannya setiap orang yang kuliah pengen lulus? Sama aja kayak setiap orang yang lapar pengen kenyang. Ya… Aku kelaparan. Alhasil, hidupku akhir- akhir ini berakhir melodramatis. Nonton Oprah nangis, nonton the Ghost Wisperer nya Jennifer Love Hewwit nangis, nonton National Geographic nangis, bahkan nonton animax juga nangis. Lebih nangis lagi kalo nonton putri yang ditukar. Sedih… Kenapa masih ada yang mau nonton anak 16 tahun dibedakin kayak ibu- ibu dan diculik ke Hongkong.

Okey, back to basic. Kesalahan sebenarnya terletak di aku. Yang udah ngelamar kerja sebelum lulus. Ga kepikiran aja kalau kerja menguras tenaga dan otak. Capek. Pulang- pulang cuman pengennya nonton Glee sambil merem melek karena ngantuk. Udah gak cukup otaknya buat kerja lagi. Dan ternyata bolak balik Jakarta- Bandung- Jakarta dalam sehari seminggu sekali itu sangat melelahkan. Apalagi kalau cuman buat ketemu dosen setengah jam.

Yeah, I don’t want to get tortured. I think my BF already enough to  hear from me about this matter…

Dear, blog sayang… Maapin mamah ya :*

Category: Et Cetera  Tags: ,  One Comment

Lubang Air Mata dan Korelasi Terhadap Ayah

Aku tahu, aku terlahir setelah 31 tahun kau bernafas, setelah hampir 10 bulan kau menunggu. Mungkin terlalu jauh umur kita, kau pikir. Aku memang tak pernah mengerti apa yang kau pikirkan dan jalan pikiranmu. Memang kita tak pernah jadi sahabat, Pak. Sebagaimana aku mencoba. Dari sapaan sederhana, kelitikan, tertawaan, sampai dengan pembahasan ikatan karbon, kimia industri, obat- obatan tradisional, dan filosofi kitab suci. Kadang aku tak mau pulang, hanya dengan memikirkan, semakin lama aku di rumah, semakin kita sering beradu mulut, atau berakhir dengan tangisan diam- diamku ketika aku terlalu kesal dan tak bisa mengungkapkan apa yang ada di hatiku, di otakku.

Memang, aku terlahir tak sempurna. Semua orang seperti itu, Pak. Aku bayi istimewa, terlahir tanpa lubang air mata. Setelah keluar dari rahim ibu, aku hanya berteriak, tanpa menangis. Aku jadi bertanya- tanya, apakah kau bersedih, apakah curiga, panik, atau biasa saja. Tahu- tahu, aku sudah mendapatkan lubang air mata baru. Ketika kini aku menangis, aku tersadar, lubang air mata berperan begitu besar. Seringkali aku menyesali, mengapa kau harus membuatkanku lubang air mata. Karena lubang artifisial itu, air mataku sering terkuras. Habis. Apalagi ketika kau tak pernah mau peduli, bagaimana kerasnya duniaku.

Kau ayah, kau bertitah, kau menunjuk, kau memerintah. Aku anak, aku menurut, aku menunduk. Apakah aku boleh menolak, saat kau memintaku masuk jurusan kedokteran? Itu ambisimu, Pak. Kau ingin menjadi seorang dokter. Aku tidak. Apakah kau mendengarkan aku ketika aku ingin mengatakan bahwa SPMB waktu itu salah tempat? Kau tuduh aku tak siap, tak pandai mengatur diri. Bukan salahku, Pak. Salah mereka, yang tak becus mengatur jadwal. Dua ribu anak lainnya terlantar, termasuk aku. Kau berkata, “Kamu mencoba mengajari aku?”. Aku menangis, sedih, karena kau tak pernah mau peduli. Hatimu tak bertelinga, pikiranmu terlalu dangkal. Aku anakmu. Dan kau tidak mendengarkanku. Tak sadarkah, kau waktu itu mulai menebarkan benih benci di diri anakmu.

Aku setidaknya ingin kau mendengar apa yang bisa kau dengar. Aku perempuan, Pak. Aku berpikir menggunakan hati. Bertindak dengan sedikit rasio, dan menggunakan perasaan untuk berbicara. Sedang kau tak pernah mengerti. “Cuma begitu aja nangis!”, serumu. Apakah aku harus menjadi seorang anak laki- laki sehingga aku bisa mengerti inginmu. Padahal aku sangka ikatan fusi begitu erat diantara kita. Aku terlalu banyak mewarisi sifatmu. Aku terus melatih diri agar tak sakit hati saat kau berbicara. Tapi kau anggap aku tak mendengarkanmu.

Terlalu banyak asumsi- asumsi berkecamuk di pikiranku. Berkelahi sendiri seperti suporter sepakbola yang melihat kesebelasannya kalah di lapangan hijau. Tolong beritahu aku, Pak. Dengan hati. Apa yang kau maksudkan ketika kau bertindak dan berucap. Ketika aku selesai menuliskan ini, aku akan mendidik diri, untuk mengungkapkan bahwa aku sayang Bapak. Dan aku tak akan berhenti berharap bahwa kau akan berkata, “Anakku, aku mencintaimu.”

Pergi???

Aku kembali pada kamar berukuran 3×3 Meter itu. Ruangannya ditemani lemari kayu yang lapuk dimakan rayap. Ketika kutarik lacinya, debu putih memenuhihidungku, membuatku terbatuk, dan mengumpat “sialan!”. Kujejalkan kembai laci yang berlubang itu. Dimensinya tak lagi serasi dengan inangnya, kurasa laci itu merasa tak diharapkan lagi. Serbuk kayu tadi menaburi tumpukan bajuku, membuatku berpikir untuk mencucinya lagi, namun kuabaikan. Kualihkan pandangan ke setumpuk pakaian kotor dalam keranjang, kunikmati bentuknya lalu terdiam. Kuambil satu, lalu kukembangkan cuping hidung. Kurenggut oksigen dalam- dalam melalui sela-  sela seratnya. Apak dan kecut, “Acem ih…”, katamu sambil tersenyum. Kurebahkan tubuh sambil kututupi wajahku dengan bantal.

***

Kamu seperti alkohol, nikmat, sedikit pahit saat diteguk, menghangatkan tubuh, dan memabukkan. Membuat aku tertawa saat tidak ada apa- apa dan membuatku menangis saat kau tiada. Aku baru tahu kau luar biasa, saat rokok dan vodka tidak bisa menggantikan kehadiranmu. Kau yang membuatku berhenti, kau yang membuatku memulai lagi. Menyedihkan, aku yang biasanya tahu apa yang akan terjadi pada diriku dalam setengah jam sebelumnya, sekarang, aku terus merenungi masa setengah tahun lalu.  Terlalu malu untuk memintamu kembali, aku sekarat hampir mati. Sekarang bahkan aku tak tahu kau kemana lagi. Mungkin kau ke pantai, atau ke gunung, atau bisa jadi kau di perempatan jalan, meminta- minta, mengamen, menjajakan permen, tahu, dan aqua.

Tiga tahun kau buat aku menderita karena kebersamaan kita. Kalau kau akhirnya pergi juga, kenapa kita ditakdirkan bersua. Ini salah siapa?

Bullying Message

Hari ini saya mendapat sms dari orang yang sama sekali tidak saya kenal. Dia menyamar sebagai pacar saya. Bahkan lebih posesif dari aslinya. Jika saya tidak balas smsnya dalam dua menit, dia akan mengirimkan pesan: “Kenapa kamu ga balas sms aku?”. Sedangkan saya sudah tidak tertarik menghadapi orang- orang seperti ini. Aaah… lain kali saya berjanji pada diri sendiri, tidak akan usil menanggapi sms seperti ini lagi. Ujung- ujungnya?? Dia minta tidur bareng. Tepatnya, dia meniduri saya. Tidur bersama. Oh, don’t even thing that I fulfill his wish.

Hello, I’ve got sex message from someone I don’t know either.
Thank you for the lesson.

Mimpi

Tadi malam aku memintamu menginap di apartemenku, hanya sekedar untuk melepas rindu. Kau memang tak tersentuh, bahkan oleh tanganmu sendiri. Aku cukup bahagia melihat kau tertidur pulas di karpet bulu sambil berselimutkan sleeping bag yang biasa kubawa ke gunung. Di udara Jakarta yang sepanas ini, masih saja kau tidak bisa tidur tanpa selimut, walaupun nantinya saat bangun kau akan menemukan dirimu dalam keadaan basah seperti keluar dari kolam renang.

Pukul 3 pagi, waktu yang katanya begitu sakral, aku terbangun oleh mimpi yang menyebalkan. Di mimpiku, tidurku ditemani oleh seseorang laki- laki tak kukenal. Ketika bangun, dia mencium bibirku, lalu kucium bibirnya. Lalu dia tertawa, dia merasa aku miliknya. Harga diriku mati terbawa angin. Cih. Lalu aku berlari mencari kamu, namun kamu tak ada. Kamu hilang. Tawanya terus menggema di telingaku. Aku terbangun.

Saat mataku terbuka, kumelihat langit- langit kamar, lalu samar- samar kurasakan tanganmu memelukku dari belakang. Ternyata kau tak lagi berselimutkan karpet bulu, kau rebut selimutku.

Senyumku mengembang seperti anak kecil yang baru saja dibelikan balon. Ah, semoga tadi tak hanya mimpi. :)

Hadiah

Yah, lagi- lagi hari Minggu, entah mengapa aku tidak menyukainya, dikala orang lain merindukan hari libur, aku justru menghindarinya, dan berharap, ya Tuhan, hapuskanlah hari Minggu…

” Deri, come here, and please help me.” Mama mulai mengganggu tidurku.
” Coming.”, jawabku malas.
” Pegang ini, ini, dan ini, please.”
Aku memegang berbagai barang, entah untuk apa, dan entah mengapa mama tidak meletakkannya begitu saja di lantai. Merepotkan. Kulihat mama berada dua meter dari tanah.
” Kenapa ga ditaro di lantai aja sih, Ma?”
” Ga praktis dong, Deri… Hand me the yellow one…”
Aku memberikan benda kuning, ah bintang ternyata. Aku baru saja menyadari bahwa mama sedang menghias pohon natal yang begitu tinggi.
” Ma, natal kan masih lama, kenapa sih harus repot- repot menghias pohon natal?” aku terdiam ” dan setinggi itu?”
Tak kudengar mama berbicara, Hanya senyuman yang membuat wajahnya semakin membulat.
” It’s a surprise!”, kata mama
Aku bosan menunggui mama menghias pohon natalnya, kembali lagi aku ke peraduan, memeluk guling, dan berharap agar cepat datang Senin.
” Deri!!!”
Kurasakan suara wanita di telingaku, meneriakkan namaku begitu keras, meninggalkan bunyi ‘nging’ di kepala. Aku tahu ini kebiasaan siapa.
” Monyet! budeg telingaku! kenapa sih setiap kau datang ke sini, tak pernah membiarkan aku bermesraan sama gulingku?”
” Kamu gak kangen adikmu yang paling cantik ini? Jauh- jauh lho aku datang ke sin.”, jawabnya sambil mengedip- ngedipkan mata. “mana hadiah buat aku?”
” Nih ucapan selamat. Selamat ulang tahun ya”, ucapku sambil menjabat tangannya, lalu membalikkan badan, dan kembali memeluk guling.
” Pelit!!! Weeek… Mama aja bikinin aku pohon natal gede banget.”
” Hei! Sadar dong, kamu berumur 20 tahun, dan masih suka mengoleksi pohon natal. What a weirdo!”, ucapku sambil memejamkan mata mencoba tidur.
” Sejak kapan mengoleksi pohon natal jadi hobi yang aneh? Makanya update donk, sekarang kan setiap cewek di dunia ini mengoleksi pohon natal. Apalagi di umur 20. Kamu sih terlalu lama tinggal di underground.”

Huh, kalau bukan karena ulangtahun ke 20 adikku ini, aku tak akan pulang ke rumah ini. Aku lebih nyaman di undergroundku sana. Berdesakan dengan berbagai jenis manusia di bis dan berjalan di trotoar, walaupun sambil menghirup debu jalanan dan asap knalpot mobil yang tidak diuji emisi.

“Ah, saatnya tiup lilin, ayo Der, kita keluar kamar.”, ajak adikku.
“Malas aku.”
“Ayolaaah, sekali seumur hidup aku berumur 20. Kalau besok aku mati, kamu pasti nyesel ga ikut tiup lilin sama aku.”, katanya membujukku
“Yayayayaya…”
Kuseret badanku, lalu kurapikan rambut sedikit, demi menghargai adikku. Seperti biasanya acara tiup lilin, pertama menyanyi, make a wish dan splash, lilinnya mati.
“Picture time!”, kata Papa

I wish I am not here… I wish I am not here… I wish I am not here… Kuhentak- hentakkan tanah, aku mulai gelisah. Sudah tidak tahan lagi aku disini, aku ingin pulang saja ke bawah sana. Mereka terlalu mengintimidasi aku. Cukup sudah kurasa. Lebih baik aku melangkahkan kaki untuk mengambil koper dan pergi.
Yak, lengkaplah sudah, mereka menyewa tukang foto untuk membuat ini menjadi sempurna. Gadis 20 tahun memang seharusnya difoto di sebelah bintang tertinggi di pohon natal. Menandakan gadis itu sudah siap terbang sendiri menjelajahi kehidupannya, dan aku tidak akan bisa berfoto bersama adikku.

Tukang foto itu menatapku curiga, menganggapku sebagai makhluk dunia lain. Aku benci pandangan seperti ini. Seperti menusuk- nusuk harga diriku.

“Ya, selamat berfoto lah kalian. Aku akan pulang.”, kataku ketus.
Kulihat pandangan mama dan papa sedih, mereka ingin berucap namun tak bisa, papa terlihat menyesal mengajak foto bersama. Sebelum aku melangkahkan kaki, adiiku menggamit tanganku cepat- cepat.
“Deri, tidak perlu seperti itu, kamu tetap kakakku yang paling luar biasa.”, dia terdiam sejenak, “Walaupun kamu tidak bersayap, walaupun kamu seperti manusia, dan kamu lebih suka berada di dunia bawah sana. Meskipun kamu tidak bisa terbang, dan lebih suka berjalan dengan kakimu, namun kamu adalah kakakku paling luar biasa. Yang menggendongku waktu sayapku terluka, dan ketika aku tidak bisa berjalan, dan kau yang mengajariku terbang, padahal kau tak bersayap. Kali ini aku akan menggendongmu sambil mengepakkan sayap. Berharap di bintang pohon natal ulangtahunku ke 20 ini.”, katanya sambil terbata- bata, lalu melanjutkan lagi, “harapanku di ulangtahun ke 20 ini adalah agar kau bisa terbang walaupun tanpa sayap, tauk!!”
Aku membeku, mematung, memikirkan adikku, begitu egoisnya aku jika aku tak mau mengabulkan permintaannya kali ini.
“Tapi adik tidak boleh menggendong kakaknya. Itu memalukan, tauk!” kataku sambil mencubit hidungnya.

Tak berapa lama, aku merasakan pelukan adikku, dan kakiku terangkat dari tanah. Inilah foto pertama keluarga kami di atas angin, di belakang bintang pohon natal harapan seorang gadis yang baru saja berusia 20 tahun. Ya, aku terbang tanpa sayap untuk yang pertamakalinya.

Category: Art  Tags: ,  Leave a Comment